Jumat, 04 Juni 2010

Organisasi dan komunikasi

Organisasi dan komunikasi

Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harafiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana.

Dalam kehidupan masyarakat kita mengenal banyak sekali organisasi. Baik itu organisasi olahraga maupun organisasi berbadan hukum sekalipun. Sering kita mendengar orang berbicara, misalnya dalam dunia olahraga, “keberhasilan ini atas kerja keras tim kami”. Menurut Wayne Pace dan Don F.Faules mengatakan bahwa kita berusaha menjadi anggota organisasi yang terbaik, dan kita mengharapkan manfaat tertentu atas keikutsertaan kita dakam kegiatan yang terorganisasi.[1]

Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utama organisasi sudah tentu untuk mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut.

Berdasarkan sifat komunikasi dan jumlah komunikasi menurut Onong Uchyana Effendi, komunikasi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori: 1)Komunikasi Antar Pribadi. 2)Komunikasi Kelompok. 3)Komunikasi Massa.[2]

1. Komunikasi antar pribadi

Komunikasi ini penerapannya antara pribadi/individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama.

2. Komunikasi kelompok

Pada prinsipnya dalam melakukan suatu komunikasi yang ditekankan adalah faktor kelompok, sehingga komunikasi menjadi lebih luas. Dalam usaha menyampaikan informasi, komunikasi dalam kelompok tidak seperti komunikasi antar pribadi.

3. Komunikasi massa

Komunikasi massa dilakukan dengan melalui alat, yaitu media massa yang meliputi cetak dan elektronik.

Alasan seseorang mempelajari komunikasi organisasi adalah untuk menemukan berbagai cara untuk memperbaiki dan mendapatkan kualitas kehidupan kerja. Komunikasi lebih daripada apa yang dilakukan orang-orang. Wayne Pace dan Don F.Faules menjelaskan komunikasi organisasi suatu disiplin studi yang dapat mengambil sejumlah arah yang sah dan bermanfaat.[3]

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005)[4]. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.

Fungsi Komunikasi dalam Organisasi

Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:

Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu:

1. Fungsi informatif

Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.

2. Fungsi Regulatif

Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif ini, yaitu:

  1. Atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Disamping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of authority) supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung pada:
    1. Keabsahan pimpinan dalam penyampaikan perintah.
    2. Kekuatan pimpinan dalam memberi sanksi.
    3. Kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi.
    4. Tingkat kredibilitas pesan yang diterima bawahan.
  2. Berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

3. Fungsi Persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

4. Fungsi Integratif

Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin) dan laporan kemajuan oraganisasi; juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management klasikal adalah sebagai berikut:

  • kesatuan komando- suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan
  • rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi.
  • divisi pekerjaan- manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien.
  • tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.
  • disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut kebiasaan dan aturan disetujui.
  • mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum- melalui contoh peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.

Selanjutnya, Griffin menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi. Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan sistem. Karl Weick (pelopor pendekatan sistem informasi) menganggap struktur hirarkhi, garis rantai komando komunikasi, prosedur operasi standar merupakan mungsuh dari inovasi. Ia melihat organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi kepada suatu perubahan lingkungan dalam orde untuk mempertahankan hidup. Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick meyakini organisasi akan bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu, ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada komunikasi dari pada aturan-aturan.

Teori Weick tentang pengorganisasian mempunyai arti penting dalam bidang komunikasi karena ia menggunakan komunikasi sebagai basis pengorganisasian manusia.

Menurutnya, kegiatan-kegiatan pengorganisasian memenuhi fungsi pengurangan ketidakpastian dari informasi yang diterima dari lingkungan atau wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah ketidakjelasan untuk mengatakan ketidakpastian, atau keruwetan, kerancuan, dan kurangnya predictability. Semua informasi dari lingkungan sedikit banyak sifatnya tidak jelas, dan aktivitas-aktivitas pengorganisasian dirancang untuk mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.

Weick memandang pengorganisasian sebagai proses evolusioner yang bersandar pada sebuah rangkaian tiga proses:

penentuan (enachment)--- seleksi (selection)---penyimpanan (retention)

Penentuan adalah pendefinisian situasi, atau mengumpulkan informasi yang tidak jelas dari luar. Ini merupakan perhatian pada rangsangan dan pengakuan bahwa ada ketidakjelasan.

Seleksi, proses ini memungkinkan kelompok untuk menerima aspek-aspek tertentu dan menolak aspek-aspek lainnya dari informasi. Ini mempersempit bidang, dengan menghilangkan alternatif-alternatif yang tidak ingin dihadapi oleh organisasi. Proses ini akan menghilangkan lebih banyak ketidakjelasan dari informasi awal.

Penyimpanan yaitu proses menyimpan aspek-aspek tertentu yang akan digunakan pada masa mendatang. Informasi yang dipertahankan diintegrasikan ke dalam kumpulan informasi yang sudah ada yang menjadi dasar bagi beroperasinya organisasinya.

Meskipun segmen-segmen tertentu dari organisasi mungkin mengkhususkan pada satu atau lebih dari proses-proses organisasi, hampir semua orang terlibat dalam setiap bagian setiap saat. Pendek kata di dalam organisasi terdapat siklus perilaku.

Siklus perilaku adalah kumpulan-kumpulan perilaku yang saling bersambungan yang memungkinkan kelompok untuk mencapai pemahaman tentang pengertian-pengertian apa yang harus dimasukkan dan apa yang ditolak. Di dalam siklus perilaku, tindakan-tindakan anggota dikendalikan oleh aturan-aturan berkumpul yang memandu pilihan-pilihan rutinitas yang digunakan untuk menyelesaikan proses yang tengah dilaksanakan (penentuan, seleksi, atau penyimpanan).

Demikianlah pembahasan tentang konsep-konsep dasar dari teori Weick, yaitu: lingkungan; ketidakjelasan; penentuan; seleksi; penyimpanan; masalah pemilihan; siklus perilaku; dan aturan-aturan berkumpul, yang semuanya memberi kontribusi pada pengurangan ketidakjelasan.

2. Pendekatan budaya. Asumsi interaksi simbolik mengatakan bahwa manusia bertindak tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka miliki tentang sesuatu itu. Mendapat dorongan besar dari antropolog Clifford Geertz, ahli teori dan ethnografi, peneliti budaya yang melihat makna bersama yang unik adalah ditentukan organisasi. Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu organisasi merupakan sebuah cara hidup (way of live) bagi para anggotanya, membentuk sebuah realita bersama yang membedakannya dari budaya-budaya lainnya.

Pacanowsky dan para teoris interpretatif lainnya menganggap bahwa budaya bukan sesuatu yang dipunyai oleh sebuah organisasi, tetapi budaya adalah sesuatu suatu organisasi. budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-anggotanya. Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai sasaran-sasaran jangka pendek tetapi juga menciptakan atau memperkuat cara-cara yang lain selain perilaku tugas ”resmi” dari para karyawan, karena aktivitas-aktivitas sehari-hari yang paling membumi juga memberi kontribusi bagi budaya tersebut.

Daftar Pustaka

Sasa Djuarsa S., Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta. 2003

Effendi, Onong Uchyana, Dimensi-Dimensi Komunikasi, 2005.

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, 2007.

Little John, Theories of human communication, 2001

Em Griffin, A First Look at Communication Theory, McGrraw-Hill Companies, 2003.

R.Wayne Pace, dan Don F.Faules.,Editor Mulyana,Deddy. Komunikasi Organisasi Strategi MeningkatkanKinerja Perusahaan, 2006.



[1] R.Wayne Pace, dan Don F.Faules.,Editor Mulyana,Deddy. Komunikasi Organisasi Strategi

MeningkatkanKinerja Perusahaan, 2006:3

[2] Effendi, Onong Uchyana, Dimensi-Dimensi Komunikasi , 2001:50

[3] Ibid, 2006:25

[4] Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Teori Komunikasi Interpersonal

Teori Komunikasi Interpersonal

Aktivitas manusia terhadap komunikasi yang dilakukan dalam setiap ruang gerak mereka dalam pemahaman diri pribadi ini berkembang berdasarkan perubahan yang terjadi dalam hidup. Manusia sendiri tidaklah lahir dengan pemikiran akan siapa dirinya tersebut akan tetapi perilaku (Behavior) mereka selama ini memiliki peranan penting dalam pembangunan pemahaman diri pribadinya.

Komunikasi Interpersonal

Penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi interpersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu mengirimkan pesan sekaligus penerima pesan itu sendiri, yang memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.

Komunikasi interpersonal bisa menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lain. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsung komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi keika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain.

Menurut Fisher (1987:134) dalam Wikipedia mengatakan kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu. Elemen dari kesadaran ini adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda-beda (multi selves).
Pengertian komunikasi interpersonal dapat diartikan penggunaan bahasa atau yang ter jadi dalam diri komunikator itu sendiri. Atau juga komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang.

Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi
Komunikasi diadik,
Komunikasi publik, dan
Komunikasi kelompok kecil.
Sistem Komunikasi Interpersonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang sistem dalam komunikasi interpersonal seperti:
• Persepsi Interpersonal
• Konsep Diri
• Atraksi Interpersonal
• Hubungan Interpersonal.
Hubungan Interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya (Trust)
Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

2. Perilaku suportif
Akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:
a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
b.Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e.Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka,
kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.
Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.
Agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif dan kerja sama bisa ditingkatkan, kita perlu bersikap terbuka dan menggantikan sikap dogmatis. Kita perlu juga memiliki sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong timbulnya sikap saling memahami, menghargai dan saling mengembangkan kualitas.
Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan kerjasama antara berbagai pihak, tidak terkecuali dalam lembaga pendidikan.

Interaksi Simbolik

Pada dasarnya teori interaksi simbolik berakar dan berfokus pada hakekat manusia yang adalah makhluk relasional. Setiap individu pasti terlibat relasi dengan sesamanya. Tidaklah mengherankan bila kemudian teori interaksi simbolik segera mengedepan bila dibandingkan dengan teori-teori sosial lainnya.

Alasannya ialah diri manusia muncul dalam dan melalui interaksi dengan yang di luar dirinya interaksi itu sendiri membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol itu biasanya disepakati bersama dalam skala kecil pun skala besar. Simbol-misalnya bahasa, tulisan dan simbol lainnya yang dipakai-bersifat dinamis dan unik.

Keunikan dan dinamika simbol dalam proses interaksi sosial menuntut manusia harus lebih kritis, peka, aktif dan kreatif dalam menginterpretasikan simbol-simbol yang muncul dalam interaksi sosial. Penafsiran yang tepat atas simbol tersebut turut menentukan arah perkembangan manusia dan lingkungan. Sebaliknya, penafsiran yang keliru atas simbol dapat menjadi petaka bagi hidup manusia dan lingkungannya.
Sampai akhirnya teori interaksi simbolic terus berkembang sampai saat ini, dimana secara tidak langsung SI merupakan cabang sosiologi dari perspektif interaksional (Ardianto. 2007: 40). Interaksi simbolic menurut perspektif interaksional, dimana merupakan salah satu perspektif yang ada dalam studi komunikasi, yang barangkali paling bersifat ”humanis” (Ardianto. 2007: 40).
Dimana, perspektif ini sangat menonjolkan keangungan dan maha karya nilai individu diatas pengaruh nilai-nilai yang ada selama ini. Perspektif ini menganggap setiap individu di dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, berinteraksi di tengah sosial masyarakatnya, dan menghasilkan makna ”buah pikiran” yang disepakati secara kolektif. Dan pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa setiap bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh setiap individu, akan mempertimbangkan sisi individu tersebut, inilah salah satu ciri dari perspektif interaksional yang beraliran interaksionisme simbolik

Tokoh teori interaksi simbolik antara lain : George Herbert Mend, Herbert Blumer, Wiliam James, Charles Horton Cooley. Teori interaksi simbolik menyatakan bahwa interaksi sosial adalah interaksi symbol. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut.
Asumsi-asumsi:
1. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi melalui tindakan bersama dan membentuk organisasi.
2. Interaksi simbolik mencangkup pernafsiran tindakan. Interaksi non simbolik hanyalah mencangkup stimulus respon yang sederhana.
PELAPISAN SOSIAL /STRATIFIKASI SOSIAL
Pelapisan sosial adalah perbedaan tinggi rendah kedudukan seseorang/sekelompok orang dibandingkan dengan sseseorang atau sekelompok orang lain dalam masyarakat. Pelapisan sosial dapat terjadi karena pengaruh berbagai kriteria, antara lain ekonomi, politik, sosial.
1. Sistem Pelapisan Sosial
Menurut status kependudukan asli atau pendatang misalnya di daerah Jawa dengan adanya cikal bakal yaitu orang yang merintis tinggal didaerah tersebut dan mempunyi keturunan di daerah tersebut, womg baku yaitu orang yang mempunyai saudara, tanah, dan lahir di daerah tersebut, pendatang yaitu orang yang membeli tanah dan membangun didaerah tersebut. Sedangkan di Sumatra Utara ada yang disebut dengan Sipunta huta/bangsa taneh yaitu keturunan nenek moyang dan penduduk pendatang.
2. Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial ialah perbedaan sosial dalam masyarakat secara horisontal. Bentuk diferensiasi sosial yaitu diferensiasi jenis kelamin, diferensiasi agama, diferensiasi profesi dsb.


Kesimpulan Penulis
Kehidupan manusia yang dipenuhi oleh simbol-simbol. Tiap manusia ataupun diri mempunyai tanggapan terhadap simbol-simbol yang ada, seperti menanggapi suatu rangsangan (stimulus) dari suatu yang bersifat fisik.
Mengkomunikasikan simbol-simbol yang ada disekitar mereka, baik secara verbal maupun perilaku non verbal. Pada akhirnya, proses kemampuan berkomunikasi, belajar, serta memahami suatu makna di balik simbol-simbol yang ada, menjadi keistimewaan tersendiri bagi manusia dibandingkan mahluk hidup lainnya (Hewan).
Kemampuan manusia inilah yang menjadi pokok perhatian dari analisis sosiologi dari teori Interaksi simbolik. Ciri khas dari teori Interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam proses saling menterjemahkan, dan saling mendefinisikan tindakannya, tidak dibuat secara langsung antara stimulus-response, tetapi didasari pada pemahaman makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan simbol-simbol, interpretasi, dan pada interaksi simbolik tersebut.

Daftar Pustaka

1. Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_interpersonal
2. Djalaluddin Rachmat, Psikologi Komunikasi, Bandung: Rosda
3. Gunarsa, Yulia Singgih. Asas-asas Psikologi: Keluarga Idaman, BPK Gunung Mulia
4. Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung:
Simbiosa Rekatama Media
5. http://74.125.153.132/search?q=cache:bu8OzWIl4jIJ:antari05.blogspot.com/2007/11/komunikasi-sosial-budaya.html+interaksi+simbolik&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

Paradigma dalam Ilmu Komunikasi

Paradigma dalam Ilmu Komunikasi
Perspektif dalam Ilmu Komunikasi

Komunikasi memegang sebuah peranan penting dalam kehidupan dan berhubungan dengan orang lain atau kelompok atau organisasi/instansi. Permasalahan yang terjadi karena komunikasi yang tidak lancar dan berjalan semestinya, bahkan orang pun menjadi menjaga komunikasi karena perasaan emosi yang memungkinkan untuk berkomunikasi dengan baik.
Komunikasi boleh dikatakan hal sepele tapi bisa berakibat fatal. Contohnya saja permasalahan yang sedang hangat diperbincangkan sebagian orang. Antara Kepolisian RI dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), katakan saja salah satu ulah oknum perwira tinggi Kepolisian RI yang mengatakan; perseteruan cicak dan buaya.
Walaupun bahasa tersebut biasa kita pakai sehari-hari. Tapi bila kita gunakan di ruang dan waktu yang tidak tepat maka bisa berakibat fatal. Sehingga dengan mengatakan kata-kata cicak dan buaya pemimpin negara pun bisa ikut campur dalam perseteruan ini. Intinya komunikasi sudah menjadi paradigma yang sudah menjadi kunci utama dalam melaksanakan dan mencapai keberhasilan segala bidang ilmu.

Seiring dengan terjadinya perkembangan sosial masyarakat yang merupakan konsekuensi
Dari perkembangan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi menurut Bungin (2008:235) dipengaruhi oleh tiga paradigma besar:

1. Paradigma Teori Konvensional; yaitu paradigma teori yang dianut oleh para ilmuwan komunikasi yansecara keilmuwannya mengembangkan teorinya secara linier.
2. Paradigma Kritis dan Perspektif komunikasi; yaitu paradigma komunikasi yang dianut oleh para sarjana yang awalnya (terutama S1) belum mempelajari teori komunikasi, kemudian secara serius mempelajari komunikasi secara kritis dan menurut perspektif komunikasi yang dilihatnya.
3. Paradigma teknologi media; Paradigma ini lahir dari para peminat telematika, terutama oleh para sarjana teknologi informasi. Walaupun paradigma ini tidak terlalu berpengaruh dalam kancah teori komunikasi bila dibandingkan dengan dua paradigma terdahulu, namun teori-teori komunikasi menggunakan perkembangan teknologi media ini untuk merevisi teori komunikasi yang ada hubungan dengan media dan komunikasi massa.






Paradigma ilmu komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya, menurut Dedy N.Hidayat (1999) yang mengacu pada pemikiran Guba (1990:1994) ada tiga Paradigma:

1. Paradigma Klasik (Classical paradigm);
Menurut Sendjaja (2005), pardigma klasik (gabungan dari paradigma ‘positivism’ dan post positivism menurut Guba), menurut Dedy N.Hidayat (1999), bersifat interventionist’, yakni melakukan pengujian hipotesis dalam struktur hypothetico-deductive method, melalui laboratorium, eksperimen, atau survei eksplanatif dengan analisis kuantitatif.

2. Paradigma Kritik (Critical pardigm);
Lebih berorientasi pada participative dalam arti mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual, dan multilevel analisis, dan peneliti berperan sebagai aktivis atau partisipan.

3. Paradigma Konstruktivisme (construstivism paradigm);
Menurut Bungin (2008; 238) mengatakan paradigma konstruktivisme bersifat reflektif dan dialektikal. Antara peneliti dan subjek yang diteliti, perlu terciptanya empati dan interaksi dialektis agar mampu merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode kualitatif seperti observasi partisivasi.

Jadi perkembangan teori banyak dipengaruhi oleh paradigma teknologi informasi, sehingga perguruan tinggi ilmu komunkasi memandang perlu mengajarkan teori dan sejarah teknologi komunikasi kepada mahasiswanya, menurut Sendjaja (2005:11) dalam Bungin (2008:237) mengatakan bahwa ilmu komunkasi pada dasarnya merupakan salah satu ilmu pengetahuan sosial yang bercirikan ‘multi perspektif’ dan ‘multi paradigma’. Dan berdasarkan basis keilmuan, perspektif dan paradigma yang diterapkan dalam ilmu komunikasi bermacam ragam.

Menurut Bungin (2008) mengatakan, berdasarkan metode dan logika, terdapat empat perspektif yang mendasari teori dalam ilmu komunikasi.
1. Perspektif covering lows; yang berangkat dari prinsip kausalitas atau hubungan sebab akibat (Berger,1977), umumnya menjadi basis pengembangan teori-teori komunikasi yang memerlukan pembuktian secara empiris.

2. Perpekstif rules; berdasarkan prinsip parktis bahwa manusia aktif memilih, mengubah, dan menentukan aturan-aturan yang menyangkut kehidupannya (Chusman, 1977). Teori ini banyak diterapkan dalam teori-teori komunikasi pribadi.

3. Perspektif system; mempunyai 3 model, yakni :
a. ‘General system theory’
b. ‘Cybernetics’
c. ‘Structural functionalism’ (Monge, 1977)
Umumnya dijadikan pada teori-teori informasi dan komunikasi organisasi.

4. Perspektif symbolic interactionism; lebih mengutamakan pengamatannya pada interaksi simbolis (Charon, 1979:1998) yang diterapkan pada penelitian-penelitian tentang perilaku komunikasi antar individu dalam kehidupan sosial (Sendjaja, 2005:11)









Daftar Pustaka

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Rosdakarya

Bungin,Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi teori paradigma dan diskursus teknologi komunikasi dimasyarakat, Jakarta: Kencana

Sendjaya, Sasa Djuarsa, 1993. Teori Komunikasi, Jakarta:UT

Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996.

Jenis-Jenis Teori Komunikasi

Jenis-Jenis Teori Komunikasi

Betapa luasnya komunikasi ini dalam perkembangannya. Deddy Mulyana (2007:108). mengatakan, kita tidak dapat tidak berkomunikasi (we cannot not communicate). Karena kemampuan berkomunikasi inilah dan kemampuan berpikir semacam ini sehingga menghasilkan produk ilmuih berupa berbagai jenis teori komunikasi yang kemudian dipilah dan terbagi dalam beberapa jenis teori komunikasi.

Littlejohn (1996:21 dalam Burhan Bungin (2006:247)) mengatakan, erdasarkan metode penjelasan serta cakupan objek pengamatan, secara umum teori-teori komunikasi dapat dibagi dalam dua kelompok.

A. Teori Umum (General theories)

1. Teori- Teori Fungsional dan Struktural

Dibangun berdasarkan asumsi dasar teori yaitu: (1) Masyarakat merupakan organisme kehidupan (2) Masyarakat memiliki sub subsistem kehidupan (3) Masing-masing subsistem memiliki fungsi berbeda (4) Fungsi-fungsi subsistem saling memberi kontribusi kepada subsitem lain (5) Setiap fungsi akan terstruktur dalam masyarkat berdasarkan fungsi masing-masing.

Pendekatan fungsional dan struktural mempunyai titik penekanan yang berbeda.

Pendekatan fungsionalis berasal dari biologi pengkajiannya tentang cara-cara pengorganisasian dan mempertahankan sistem.

Pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik, menekankan pengkajian pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dan sistem sosial.

2. Teori-Teori Behavioral dan Cognitive

Menurut Sendjaja (2002:1-23) dalam Bungin (2006:249), sebagaimana halnya dengan teori-teori strukturalis dan fungsional, teori-teori behavioral dan cognitif juga merupakan gabungan dari dua tradisi yang berbeda. Perbedaan utama teori antara aliran behavioral dan kognitif dengan aliran struktural dan fungsional terletak pada fokus pegamatan serta sejarahnya. Teori Behavioral dan fungsional berkembang dari ilmu sosial dan ilmu-ilmu lainnya yang cenderung memusatkan struktur sosial dan budaya. Sementara teori-teori behvioral dan kognitif berkembang dari psikologi dan ilmu-ilmu behavioral lainnya yang cenderung memusatkan pengamatan pada diri manusia secara individual. Salah satu konsep pemikiran yang terkenal adalah Model S-R (Stimulus Respon)

3. Teori-Teori Konvensional dan Interaksional

Menurut Bungin (2006:250) mengatakan bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara serta mengubah kebiasaan –kebiasaan tertentu, termasuk bahasa dan simbol-simbol. Komunikasi, berdasarkan teori ini dianggap sebagai alat perekat masyarakat (the glue of society). Fokus pengamatan teori ini tidak pada terhadap struktur, tetapi tentang bagaimana bahasa dan simbol-simbol lainnya direproduksi , dipelihara, serta diubah dalam penggunaannya.

4. Teori-Teori Kritisdan Interpretatif

Mengacu pada Sendjaja (2002:1-23) dalam Bungin (2006: 251) teori ini gagasannya banyak berasal dari berbagai tradisi, seperti sosiologi interpretatif (interpretative sociology), pemikiran Max Weber , Phenomenology dan hermeneutics, Marxismedan aliran Frankfurt School’ serta sebagai pendekatan tekstual, seperti teori-teori retorika, Biblical, dan kesusastraan.

Teori-teori kritis dan interpretatif ini populer di negara-negara eropa kemudia melahirkan teori dan pendekatan baru dalam komunikasi seperti sosiologi komunikasi, hukum komunikasi dan hukum media, komunikasi antar budaya, komunikasi politik, komunikasi organisasi, komunikasi publik, semiotika komunikasi, dan sebagainya

Dua karakteristik umum pada teori ini

1. Penekanan terhadap peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individu

2. Makna atau meaning

B. Teori Teori Kontekstual

Seperti dijelaskan oleh Sendjaja (2002:1.25) dalam Bungin (2006: 252), berdasarkan konteks atau tingkatan analisisnya, teori komunikasi secara umum dapat dibagi dalam lima konteks atau tingkatan:

(1) komunikasi intra-pribadi (intra-personal communication);

proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, dan pusat perhatiannya kajian bagaimana jalannya proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syaraf dan indranya.

(2) komunikasi antarpribadi (interpersonal communication);

Komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, baik secara langsung (tanpa medium) atau pun tidak (melalui medium). Seperti percakapan menggunakan telepon, surat menyurat. Teori-teori antarpribadi fokus pengamatan pada bentuk-bentuk dan sifat hubungan (relationship), percakapan (discourse), interkasi, dan karakteristik komunikator.

(3) komunikasi kelompok (group communication);

memfokuskan pada interaksi diantara orang-orang dalam komunikasi kelompok-kelompok kecil. Teori-teori komunikasi kelompok difokuskan tentang dinamika kelompok, efisiensi dan efektivitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk informasi, serta pembuatan keputusan.

(4) komunikasi organisasi (organizational communication);

merujuk pada pola dan bentuk komunuikasi yang bterjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Teori ini melibatkan bentuk-bentuk komunikasi formal dan informal, pembahasannya menyangkut struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta kebudayaan organisasi.

(5) komunikasi massa (mass communication).

Effendy (2009:20) mengatakan para ahli komunikasi berpendapat bahwa yang diksdu dengan komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa(mass media communication). Ardinto dan Erdinaya (2005:48) mengatakan komunikasi massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah di tetapkan terlebih dahulu. Bungin (2006: 252) menjelaskan komunikasi melalui media massa yang ditujukan kepda sejumlah khalayak yang besar. Yang melibatkan aspek-aspek komunikasi intra pribadi, komunikasi pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi. Teori komunikasi massa memfokuskan pada pada hal strukstur media hubungan media dengan masyarakat, hubungan media dan khalayak, serta dampak atau hasil komunikasi massa terhadap individu.

Daftar Pustaka

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Rosdakarya

Bungin,Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi teori paradigma dan diskursus teknologi komunikasi dimasyarakat, Jakarta: Kencana

Sendjaya, Sasa Djuarsa, 1993. Teori Komunikasi, Jakarta:UT

Effendy, Onong Uchjana, 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek,Bandung; Rosdakarya

Ardianto, Elvinaro dan Erdinaya, Lukita Komala, 2005. Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Bandung, Rosdakarya

Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996.